Pages

Minggu, 15 April 2012

MERUBAH PARADIGMA

Paradigma dalam bahasa Inggris disebut paradigm dan dalam bahasa Perancis disebut paradigme. Istilah tersebut berasal dari bahasa Latin, yakni para dan deigma. Secara etimologis, para berarti (di samping, di rebelah) dan deigma berarti (memperlihatkan, yang berarti, model, contoh, arketipe, ideal). Sedangkan deigma berarti menunjukkan atau mempertunjukkan sesuatu. Berdasarkan uraian tersebut, secara epistemologis paradigma berarti di sisi model, di samping pola atau di sisi contoh.
Dalam dunia kerja, paradigma adalah suatu kunci yang cukup penting. Ibarat uang, maka ia berfungsi sebagai penentu seberapa cepat uang itu habis. Paradigma dapat juga disebut dengan cara pandang. Cara pandang dalam menghadapi masalah manusia satu dengan manusia yang lain itu berbeda-beda, untuk itu dari cara pandang yang berbeda-beda itulah dapat kita lihat manusia mana yang berhasil dan mana yang tidak.
Dibawah ini adalah bagan paradigma manusia pada umumnya dalam dunia usaha:
Manusia --> aktif --> bekerja --> mendapatkan penghasilan --> sukses
Hampir 90% manusia di dunia ini menjalankan paradigma yang demikian. Mereka setiap hari, bangun pagi, berangkat ke kantor kemudian di awal bulan berikutnya memperoleh upah atau gaji sebagai hasil jerih payahnya bekerja. Apabila seseorang itu konsisten terhadap pekerjaannya, maka ia dapat memastikan kesuksesannya. Memang cara demikian ini aman bagi orang-orang pada umumnya. Jika mereka ingin mendapatkan uang, maka mereka harus bekerja. Namun, pertanyaannya, bagaimana jika ia sakit, sehingga ia tidak dapat bekerja seperti biasanya. Gambaran sederhananya seperti ini:
Lanusia --> pasif --> tidak bekerja --> tidak mendapatkan penghasilan --> sukses??
Jika seseorang itu kemudian sakit, kecelakaan mungkin misalnya, atau terlibat kasus hukum sehingga ia terpaksa tidak dapat bekerja, maka sangat pasti dia tidak akan memperoleh penghasilan. Apalagi jika ditambah dengan biaya berobat yang cukup besar. Penyakit yang dideritanya mungkin membutuhkan perawatan ke Rumah Sakit dengan mengeluarkan uang yang banyak, sedangkan, ia tidak mempunyai cukup tabungan untuk hal tersebut. Maka kesuksesan menjadi pertanyaan.
Perlu diketahui juga bahwa pola paradigma yang saya jelaskan diatas sama dengan perumpamaan cara kerja seekor cicak dalam mencari makanan. Cicak juga melakukan hal demikian, yaitu untuk menjaga kelangsungan hidupnya cicak harus mencari serangga setiap saat untuk dimakan.
Mungkin anda menganggap cara ini kurang efektif. Coba kita pelajari paradigma selanjutnya. Yaitu paradigma yang dijalankan oleh 10% orang-orang di dunia. Bagan berikut ini akan membantu saya untuk menjelaskan bagaimana paradigma ini bekerja, sebagai berikut:
Manusia --> aktif --> bekerja --> membangun aset --> mendapatkan penghasilan -->sukses
Dari bagan diatas, dapat kita ketahui bahwa seseorang masih dituntut untuk bekerja untuk meraih kesuksesan. Namun, disamping bekerja, ia juga diarahkan untuk membangun aset. Kemudian dia memperoleh uang/ penghasilan dari pekerjaannya dan suatu saat dia akan mendapatkan kesuksesan. Sekarang kita lihat bagaimana jika suatu saat manusia tersebut sakit atau pensiun.
Manusia --> pasif --> tidak bekerja --> aset --> mendapatkan penghasilan --> sukses
Berbeda dengan tipe paradigma yang sebelumnya. Kali ini, meskipun seseorang dalam keadaan pasif, atau tidak bekerja namun tetap memperoleh uang dan pada akhirnya sukses. Mengapa demikian? Kok kedengarannya mustahil, tidak mungkin terjadi.
Jawabannya, jelas sangat mungkin terjadi. Karena dalam paradigma ini, asetlah yang bekerja menggantikan kita. Jadi, perbedaannya disini terdapat pada kata “aset”. Pertanyaannya, apakah aset itu?

Ambil contoh yang paling sederhana, rumah kos-kosan. Mungkin selama anda bekerja puluhan tahun, anda dapat menyisihkan penghasilan anda untuk dijadikan tabungan. Kemudian, jika tabungan mencukupi, silahkan mendirikan rumah kos-kosan di wilayah dekat rumah anda. Karena saya yakin, mahasiswa di Kota Malang saja banyak sekali yang membutuhkan rumah kos-kosan. Disamping, harganya terjangkau, juga karena mereka jauh dari keluarga atau berasal dari luar kota.
Dengan memiliki rumah kos-kosan tersebut, setiap bulannya anda mendapatkan uang tambahan disamping penghasilan dari pekerjaan utama anda. Dan jika suatu saat pensiun atau sakit/ tidak bekerja dalam waktu yang cukup lama, maka anda tidak perlu khawatir lagi dengan yang namanya finansial, karena aset berupa kos-kosan tersebut menghasilkan uang untuk anda setiap bulannya. Masih banyak contoh aset yang lain, bisa properti seperti apartemen, toko, pabrik dan lain-lain.
Sekarang, coba lihat bagaimana cara kerja laba-laba dalam mencari mangsa. Sama seperti hewan-hewan lainnya, mereka tetap mencari mangsa seperti pada umumnya. Namun, kelebihan yang dimiliki laba-laba yang konon dalam sejarah Rasulullah SAW, turut membantu Beliau bersembunyi di Gua Hiro dengan membuat sarang laba-laba sehingga menyelamatkan Rasulullah SAW dari musuh-musuhnya, adalah ada pada sarang laba-labanya itu. Selain ia berburu, si laba-laba membangun sebuah jaring-jaring seperti benang-benang halus berwarna putih untuk menangkap mangsa-mangsanya yang lain. Kemudian, suatu saat jika si laba-laba enggan berburu, maka ia dapat dengan mudah memakan mangsa-mangsa yang tertangkap dalam jaringnya. Perumpamaan Jaring laba-laba itulah yang disebut dengan aset.
BEKERJA + ASET = SUKSES
Jadi, bagi anda yang berada pada paradigma kebanyakan orang, kini anda dapat mencoba merubah paradigma anda ke paradigma sukses yang baru saja saya jelaskan.

Senin, 09 April 2012

Jangan Takut dengan MLM

Bicara mengenai MLM (Multilevel Marketing), saya mempunyai cerita sendiri mengenai dunia usaha ini. Sewaktu masih duduk dikelas 2 SMA tepatnya, ada seorang teman dari ayah yang mempresentasikan sebuah bisnis MLM yang menurut saya sangat menjanjikan dimasa depan. Yang membuat saya tertarik adalah bisnis ini dengan modal yang sangat sedikit namun bisa menghasilkan keuntungan dan bonus yang sangat besar. Disinilah tergerak hati saya untuk mengenal lebih jauh bagaimana kinerja bisnis MLM itu.

Waktu itu saya menghadiri acara seminar bisnis MLM dari perusahaan berinisial T disebuah hotel di Malang. Perusahaan tersebut adalah salah satu perusahaan yang menjalankan konsep bisnis MLM yang saat ini berkembang di berbagai belahan dunia.

Disana saya melihat antusias yang sangat luar biasa dari para pemain atau pelaku di bisnis ini. Begitu musiknya diputar, dengan sangat semangat mereka semua berjoget ria. Saya yang baru pertama kali menghadiri acara seminar itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Saya tahu, bahwa hanya orang-orang yang menganggap negatif bisnis ini saja yang tidak akan kuat merasakan panasnya kobaran semangat yang ditunjukkan pemain-pemain bisnis MLM itu.

Sangat semangat dan penuh antusias, seperti itulah pemain bisnis MLM. Dalam benak saya, mereka itu adalah manusia-manusia yang luar biasa. Mengapa tidak? Ga siang ga malam kerjaannya kalau gak nyari prospek ya memfollow up, kalau gak gitu ya ikut seminar. Begitu kata mereka. Mereka juga kerap kali menganggap bahwa mereka itu memang benar-benar MLM sejati, Manusia Larut Malam”. Kalau kerja ga kenal waktu karena saking semangatnya,  bahkan waktu 24 jam itu dirasa kurang. Dari pagi pulangnya sampai pagi lagi. Mengenai istilah follow up nanti akan saya jelaskan lebih lanjut dalam babnya sendiri. Dikala susah dan senang, moto mereka adalah tetap semangat dan selalu semangat. Biarpun rentenir menagih hutang disana sini, meskipun sampai sakit sekalipun, mereka akan tetap menjadi manusia yang selalu semangat.

Karena menurut mereka, orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang penuh semangat. Ada juga yang bilang bahwa, tersenyum itu bagian dari rasa semangat yang sangat penting dalam menjalankan sebuah usaha, usaha apa saja. Karena dengan tersenyum, Allah bisa menurunkan rejekinya dengan mudah kepada kita melalui bentuk mulut kita yang seperti mangkuk jika tersenyum. Berbeda dengan orang yang selalu cemberut, rejeki yang diturunkan-Nya tidak akan bisa kita terima dan akan berjatuhan sia-sia karena bentuk mulut kita yang seperti payung. Perumpamaan yang lucu ya.
-   -   -   -   -   -   -   -    -