Paradigma
dalam bahasa Inggris disebut paradigm
dan dalam bahasa Perancis disebut paradigme.
Istilah tersebut berasal dari bahasa Latin, yakni para dan deigma. Secara
etimologis, para
berarti (di samping, di rebelah) dan deigma
berarti (memperlihatkan, yang berarti, model, contoh, arketipe, ideal).
Sedangkan deigma
berarti menunjukkan atau mempertunjukkan sesuatu. Berdasarkan uraian tersebut,
secara epistemologis paradigma berarti di sisi model, di samping pola atau di
sisi contoh.
Dalam
dunia kerja, paradigma adalah suatu kunci yang cukup penting. Ibarat uang, maka
ia berfungsi sebagai penentu seberapa cepat uang itu habis. Paradigma dapat
juga disebut dengan cara pandang. Cara pandang dalam menghadapi masalah manusia
satu dengan manusia yang lain itu berbeda-beda, untuk itu dari cara pandang
yang berbeda-beda itulah dapat kita lihat manusia mana yang berhasil dan mana
yang tidak.
Dibawah
ini adalah bagan paradigma manusia pada umumnya dalam dunia usaha:
Manusia --> aktif --> bekerja -->
mendapatkan penghasilan --> sukses
Hampir
90% manusia di dunia ini menjalankan paradigma yang demikian. Mereka setiap
hari, bangun pagi, berangkat ke kantor kemudian di awal bulan berikutnya
memperoleh upah atau gaji sebagai hasil jerih payahnya bekerja. Apabila
seseorang itu konsisten terhadap pekerjaannya, maka ia dapat memastikan
kesuksesannya. Memang cara demikian ini aman bagi orang-orang pada umumnya.
Jika mereka ingin mendapatkan uang, maka mereka harus bekerja. Namun,
pertanyaannya, bagaimana jika ia sakit, sehingga ia tidak dapat bekerja seperti
biasanya. Gambaran sederhananya seperti ini:
Lanusia --> pasif --> tidak
bekerja --> tidak
mendapatkan penghasilan --> sukses??
Jika
seseorang itu kemudian sakit, kecelakaan mungkin misalnya, atau terlibat kasus
hukum sehingga ia terpaksa tidak dapat bekerja, maka sangat pasti dia tidak
akan memperoleh penghasilan. Apalagi jika ditambah dengan biaya berobat yang
cukup besar. Penyakit yang dideritanya mungkin membutuhkan perawatan ke Rumah
Sakit dengan mengeluarkan uang yang banyak, sedangkan, ia tidak mempunyai cukup
tabungan untuk hal tersebut. Maka kesuksesan menjadi pertanyaan.
Perlu
diketahui juga bahwa pola paradigma yang saya jelaskan diatas sama dengan
perumpamaan cara kerja seekor cicak dalam mencari makanan. Cicak juga melakukan
hal demikian, yaitu untuk menjaga kelangsungan hidupnya cicak harus mencari
serangga setiap saat untuk dimakan.
Mungkin
anda menganggap cara ini kurang efektif. Coba kita pelajari paradigma
selanjutnya. Yaitu paradigma yang dijalankan oleh 10% orang-orang di dunia.
Bagan berikut ini akan membantu saya untuk menjelaskan bagaimana paradigma ini
bekerja, sebagai berikut:
Manusia --> aktif --> bekerja --> membangun
aset -->
mendapatkan penghasilan -->sukses
Dari
bagan diatas, dapat kita ketahui bahwa seseorang masih dituntut untuk bekerja
untuk meraih kesuksesan. Namun, disamping bekerja, ia juga diarahkan untuk membangun
aset. Kemudian dia memperoleh uang/ penghasilan dari pekerjaannya dan suatu
saat dia akan mendapatkan kesuksesan. Sekarang kita lihat bagaimana jika suatu
saat manusia tersebut sakit atau pensiun.
Manusia --> pasif --> tidak
bekerja --> aset --> mendapatkan
penghasilan --> sukses
Berbeda
dengan tipe paradigma yang sebelumnya. Kali ini, meskipun seseorang dalam
keadaan pasif, atau tidak bekerja namun tetap memperoleh uang dan pada akhirnya
sukses. Mengapa demikian? Kok kedengarannya mustahil, tidak mungkin terjadi.
Jawabannya,
jelas sangat mungkin terjadi. Karena dalam paradigma ini, asetlah yang bekerja
menggantikan kita. Jadi, perbedaannya disini terdapat pada kata “aset”.
Pertanyaannya, apakah aset itu?
Ambil
contoh yang paling sederhana, rumah kos-kosan. Mungkin selama anda bekerja
puluhan tahun, anda dapat menyisihkan penghasilan anda untuk dijadikan
tabungan. Kemudian, jika tabungan mencukupi, silahkan mendirikan rumah
kos-kosan di wilayah dekat rumah anda. Karena saya yakin, mahasiswa di Kota
Malang saja banyak sekali yang membutuhkan rumah kos-kosan. Disamping, harganya
terjangkau, juga karena mereka jauh dari keluarga atau berasal dari luar kota.
Dengan
memiliki rumah kos-kosan tersebut, setiap bulannya anda mendapatkan uang tambahan
disamping penghasilan dari pekerjaan utama anda. Dan jika suatu saat pensiun
atau sakit/ tidak bekerja dalam waktu yang cukup lama, maka anda tidak perlu
khawatir lagi dengan yang namanya finansial,
karena aset berupa kos-kosan tersebut menghasilkan uang untuk anda setiap
bulannya. Masih banyak contoh aset yang lain, bisa properti seperti apartemen,
toko, pabrik dan lain-lain.
Sekarang,
coba lihat bagaimana cara kerja laba-laba dalam mencari mangsa. Sama seperti
hewan-hewan lainnya, mereka tetap mencari mangsa seperti pada umumnya. Namun,
kelebihan yang dimiliki laba-laba yang konon dalam sejarah Rasulullah SAW,
turut membantu Beliau bersembunyi di Gua Hiro dengan membuat sarang laba-laba
sehingga menyelamatkan Rasulullah SAW dari musuh-musuhnya, adalah ada pada
sarang laba-labanya itu. Selain ia berburu, si laba-laba membangun sebuah
jaring-jaring seperti benang-benang halus berwarna putih untuk menangkap
mangsa-mangsanya yang lain. Kemudian, suatu saat jika si laba-laba enggan
berburu, maka ia dapat dengan mudah memakan mangsa-mangsa yang tertangkap dalam
jaringnya. Perumpamaan Jaring laba-laba itulah yang disebut dengan aset.
BEKERJA + ASET = SUKSES
Jadi,
bagi anda yang berada pada paradigma kebanyakan orang, kini anda dapat mencoba
merubah paradigma anda ke paradigma sukses yang baru saja saya jelaskan.





